Karena Malam Akan Segera Berakhir

Semburat ceria terpancar dalam auramu ketika kamu datang malam ini.
Aku tahu ada kisah bahagia yang siap kau bagikan. Seperti biasa, kamu berbaring di sampingku dengan mata menatap tajam, memancing untuk diterka.
Seperti biasa, aku bertanya 'siapa kali ini yang membuat kamu bahagia?'
Dan Seperti biasa kamu tersipu. 

aku siap mendengar...


Kamu bilang, dia datang membawa aura segar dalam atmosfer semu kejenuhan hidupmu. Dia datang dengan holow putih di atas kepalanya memberi uluran tangan. Bagai malaikat. 
Kamu bilang, dia memiliki senyuman yang menghangatkan kebekuan soremu. Ada rasa mendamba ketika kamu bercerita tentang rupanya, sehingga aku berpikir bahwa dia terlalu sempurna menjadi manusia.

Kamu memuja.

Lalu kamu berkeluh, bagaimana bisa dewa menyeimbangkan alamnya dengan manusia? Sehingga kamu agaknya sedikit berpikir untuk mundur. Selangkah. 
Namun, aku tahu itu bukan mundur, tapi meminta aku mendorongmu untuk maju.
Tak apa, sudah biasa. 

Aku bilang, kamu akan menjadi dewi jika bersama sang dewa. Kamu akan menjadi Permaisuri jika bersama sang Raja. 

 Sesak.

Kamu tahu, kita berkejaran seperti planet yang dicipta dengan orbitnya masing-masing. Kamu menjadi saletit yang mendamba planetmu, ketika aku mendambamu.
Aku merindukan kehadiranmu seperti matahari yang merindukan bulan, yang entah kapan, dan aku pikir mungkin mustahil untuknya saling bertemu, walaupun orang sering menyandingkan kita. toh, Kita yang memang tidak dicipta untuk bersama.

Kalau aku diperkenankan berteriak, aku akan melakukannya. Tapi untuk apa? Bukankah setiap makhluk layak mendapatkan bahagianya.
Seperti kamu yang bahagia mendambanya, dan aku yang bahagia saat ada kamu di sini, walau kadang sesak.
Tapi tak apa, asal selalu ada waktu untuk kita bisa saling berceloteh. 

 Tak apa, teruskan ceritamu. 
Seperti biasa, aku bilang aku turut bahagia dan siap bersekutu apapun yang kamu putuskan. Seperti biasa, senyumanmu menghapus jejak runtuhnya sebuah harapan.
Teruskan ceritamu, hingga aku tuli karena sesaknya dada ini semakin menghujam telingaku.
Teruskan ceritamu, bukankah sesak ini adalah alasan untuk aku bertemu kamu malam ini?


.....
Malam sebentar lagi berakhir, akhirnya kamu tertidur. Aku suka saat kamu tertidur, karena aku bisa menikmati indahnya mendambakan sesuatu yang tidak menyakitkan.

Mungkin aku terlalu rendah untuk mendamba sang bintang.
Karena bintang tercipta bukan untuk dimiliki, tapi untuk tetap menghiasi langit dan dinikmati dari kejauhan.
Biarlah aku menikmati keindahanmu dari jauh dengan ditaburi sesak. 
Tak apa, beginipun aku bahagia. Cepat atau lambat perihnya akan hilang, atau tubuhku akan mengebal karena selalu menahan sakitnya.

Karena bintang tercipta bukan untuk dimiliki, tempatnya memang di langit. Dan biarlah seperti itu. Karena, cepat atau lambat malam ini segera berakhir dan horizon akan menggariskan pagi. 
Dan saat itu sinar bintang akan padam.

04.09 WIB 
Matamu masih terpejam. Dadaku masih terhujam.



Jakarta, 2013.