Jangan Iri Hati

Apta dvesaad bhaven mrtyuh

Para dvesaad dhana ksayah

Raaja dvesaad bhaven naso.

Brahmana dvesaat kula ksayah.

(Canaakya Nitisastra X.11).

Maksudnya: Bersikap iri hati pada orang baik-baik yang lebih tua dari kita menyebabkan cepat mati. Iri hati pada orang lain menyebabkan kekayaan akan punah. Iri hati dan membuat kesalahan pada raja maka Anda akan cepat hancur. Iri hati pada Brahmana Varna membuat keluarga hancur.

Salah satu kelemahan sifat manusia adalah bisa bersikap iri hati dan dendam atau Dvesa pada mereka yang dianggap lebih dari dirinya. Kelemahan itu akan muncul apabila kasih dalam diri tidak kuat mengendalikan egoisme. Dvesa atau iri dengki itu salah satu apa yang disebut Klesa dalam pustaka Upanisad. Orang yang dikuasai oleh Dvesa Klesa akan menutup pancaran sinar Atman yang selalu memancarkan kesucian dan kebenaran. Dalam diri manusia memang ada dua hal yang selalu bertarung yaitu Catur Budhi dan Panca Klesa. Untuk menaklukkan rasa iri dengki atau dendam (dvesa) itu hendaknya menguatkan dominasi Catur Budhi. Catur Budhi dalam Wrehaspati Tattwa 24 itu selalu mendorong secara spiritual agar orang berbuat berdasarkan kesadaran budhi. Ekspresi kesadaran budhi itu adalah: Dharma yaitu patuh pada kebenaran, kewajiban dan kebajikan. Jnyana artinya selalu terdorong untuk memperoleh kesadaran ilmu pengetahuan suci (jnyana) dalam menyelenggerakan hidup ini. Vairagia artinya sifat berjiwa besar dan selalu ikhlas berkorban asal untuk tujuan yang benar, mulia dan suci. Aiswarya artinya terus menerus berusaha untuk meningkatkan diri mencapai yang lebih baik dan lebih berguna di jalan yang benar. Kalau empat kesadaran budhi ini dapat mendominasi pikiran manusia maka ia akan senantiasa berpikiran, berkata dan berbuat yang sesuai dengan norma hidup yang baik, benar, tepat dan wajar. Untuk menguatkan Catur Budhi itu orang pun harus belajar dan berlatih menguatkan daya spiritualnya. Belajar dan berlatih itu tidak hanya memalui pendidikan formal. Tetapi yang lebih utama adalah pendidikan nonformal dan informal. Karena pendidikan formal itu seyogianya mendidik orang untuk menjadi punya keterampilan dan keakhlian sehingga memiliki profesi untuk memproleh rezeki untuk melangsungkkan hidupnya berdasarkan dharma. Sedangkan kehidupan untuk mendapatkan moral yang luhur dan mental yang tangguh seyogianya diintensifkan di jalur pendidikan nonformal dan informal. Menguatkan dominasi Catur Budhi itu tidak bisa hanya dengan rajin membaca dan mendengarkan dharma wacana semata. Ia harus mengembangkan kebiasan hidup yang disebut Sat Acara yaitu kebiasan hidup yang dibenarkan oleh Weda. Membiasakan makanan yang satvika, bergaul dalam pergaulan yang disebut Sat Sangga dan menghindari pergaulan Dur Sangga. Menjaga pikirannya selalu dengan mengawali dengan memikirkan nama suci Tuhan. Menjaga perkataannya dengan perkataannya dengan mengawali dengan mengucapkan nama suci Tuhan. Membangun kebiaan baik inilah ynag disebut Sat Acara. Dengan kebiasaan hidup yang Sat Acara kita membangun kebiasaan hidup yang benar dan suci. Itulah yang akan dapat melepaskan orang dari kebiasaan iri dengki dendam atau dvesa. Karena dvesa itu salah satu dari Panca Klesa yaitu lima hal yang dapat mengotori jiwa manusia. Jiwa yang kotor akan sulit mencapai karunia Tuhan meskipun melimpah ruah. Ibarat orang mandi menggunakan jas hujan, badannya tidak akan basah oleh air yang sudah mengalir deras.

Panca Klesa itu adalah Avidya, Asmita, Raga, Dvesa dan Abhinivesa. Klesa adalah bahasa Sansekerta yang artinya tercemar, kotor, penyakit dan bencana. Kalau lima Klesa itu menguasai diri manusia maka hidupnya akan kotor, tercemar, penyakitan dan diancam bencana. Klesa pertama adalah Avidya yaitu ada tujuh hal membuat orang gelap hati seperti disebutkan dalam Nitisastra IV.19 yang juga disebut Sapta Thimira. Asmita artinya mementingkan diri sendiri atau egois. Raga artinya hidup ini hanya untuk mengumbar hawa nafsu atau Wisaya Kaama. Dvesa inilah artinya iri hati, dengki dan dendam. Menurut Canaakya Nitisastra X.11 yang dikutip di atas, iri pada orang yang lebih senior akan menyebabkan cepat mati. Iri pada orang lain yang mungkin dianggap lebih sukses, kekayaan kita akan cepat punah. Iri atau berbuat salah pada Raaja atau penguasa menyebabkan akan cepat hancur. Iri pada orang suci atau Brahmana Varna menyebabkan keluarga akan cepat hancur. Jadi sifat iri ini benar-benar harus dihindari oleh mereka yang hidupnya untuk mendapatkan kebahagiaan. Memang mungkin masih banyak orang yang tidak begitu gampang menghilangkan rasa iri, dengki dan dendam yang disebut Dvesa ini.

Dalam negara yang masih digeluti oleh berbagai kesenjangan menjadi kondisi yang mendorong tumbuh suburnya rasa iri ini bagi mereka yang tidak kuat moral dan mentalnya menghadapi dinamika kehidupan. Berbagai kesenjangan masih terjadi, seperti kesenjangan ekonomi. Kesenjangan pendidikan, kesenjangan perlakuan aparatur negara kepada warga, kesenjangan sosial seperti di Bali bergesernya Catur Varna mejadi Kasta yang masih membutuhkan waktu meluruskannya pada sistem sosial Hindu yang benar. Ada kesenjangan politik, masih ada oknum yang berpandangan beda partai dianggap musuh. Dalam kehidupan birokrasi masih ada kesenjangan dalam melayani masyarakat maupun dalam menentukan siapa yang tepat mendudukan jabatan birokrasi yang tepat. Demikianlah masih banyak kesenjangan yang dapat memicu tumbuhnya rasa iri, dengki dan dendam.

Untuk mernghilangkan hal itu di samping mengaplikasi nilai-nilai spiritual agama ditingkatkan untuk menata kehidupan indiviidu dan sosial, negara juga harus menciptakan iklim kehidupan yang benar, adil dan mengutamakan supremasi hukum. Dalam bidang penegakan hukum sudah menjadi rahasia umum masih ada praktik penegakan hukum dengan plesetan “membela siapa yang bayar”. Meskipun dalam era reformasi hal itu sudah semakin menurun keberedaannya. Marilah dengan kesadaran spiritual kita kikis rasa iri hati itu tahap demi tahap dengan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.