Agen Bola-Piala Dunia

Agen Bola

Piala Dunia

Agen Bola – Ada sangat banyak alasan untuk menunggu dan menonton Piala Dunia. Pertanyaannya: adakah alasan untuk tak menonton Piala Dunia 2014?

Agen Bola
Agen Bola

Agen Bola – Saya menuliskan dua baris kalimat di atas sebagai pembuka kata pengantar buku “Brazillian Football and Their Enemies” yang kami terbitkan bulan lalu. Kalimat itu dilatari banyaknya reaksi penolakan dari rakyat Brasil sendiri terkait penyelenggaraan Piala Dunia di tanah air mereka.

Kita tahu, semakin dekat dengan hari-H, reaksi penolakan dan perlawanan terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2014 semakin massif. Aksi unjuk rasa semakin menyebar di hampir semua kota yang menjadi tuan rumah. Para demonstran yang dari hari ke hari jumlahnya semakin massif itu menganggap Piala Dunia sebagai pemborosan yang tak masuk akal. Selain kelewat mahal, biaya membangun infrastruktur mulai terbukti digerogoti tikus-tikus korup. Bagi mereka, kemewahan yang dipaksakan untuk menggelar Piala Dunia itu tak sebanding dengan pelayanan publik yang selama ini mereka terima dari pemerintah.

Pertanyaan yang diutarakan di paragraf pembuka esai ini rasanya semakin relevan untuk dijawab ketika terbetik kabar penculikan dan pembunuhan anak-anak jalanan dan gelandangan di Brasil semata agar mereka tak mengotori dan mengganggu pemandangan para wisatawan, turis, dan suporter yang berkunjung ke Brasil.

Laporan itu ditulis oleh Mikkel Johnson, seorang jurnalis Denmark, yang datang ke Brasil pada September 2013 lalu. Sedianya, Mikkel hendak menikmati atmosfer sepakbola di tanah surga para seniman bola ini. Ia bahkan sampai berniat belajar bahasa Portugis agar bisa lebih menyelami suasana dan situasi di negeri eksotik Amerika Latin ini.

Tapi apa daya, berbulan-bulan dia tinggal di sana, Johnson justru menemukan hal-hal yang menggiriskan hati.


Rangkaian protes dan perlawanan terhadap pemborosan dan korupsi dalam pembangunan infrastuktur Piala Dunia 2014 ini mengingatkan pada apa yang terjadi saat Argentina menjadi tuan rumah Piala Dunia 1978.

Semua dimulai saat militer Argentina melakukan kudeta terhadap pemerintahan Isabel Peron yang berhaluan sosialis. Dipimpin Jenderal Jorge Videla, kudeta itu segera membawa Argentina ke dalam pemerintahan junta militer yang memerintah dengan cara yang keras. Perlawanan politik diberangus. Simpatisan Isabel Peron, terutama dari kelompok kiri dan sosialis, ditangkap, diculik dan banyak dihabisi secara extra-judisial. Banyak aktivis dan mahasiswa yang diculik dan tak pernah kembali lagi.

Apa yang terjadi di Argentina saat itu serupa dengan yang berlangsung di Indonesia pada 1965 dan Chile pada 1973. Kejatuhan Soekarno diikuti oleh pemberangusan dan pembantaian ratusan ribu anggota dan simpatisan komunis. Hal yang sama juga terjadi saat presiden Chili berhaluan kiri, Salvador Allende, digulingkan pada 1973. Jika Isabel Peron digantikan Jenderal Videla, maka Allende digantikan Jenderal Pinochet dan Sukarno digantikan Jenderal Soeharto.

Selama kekuasaan junta militer, dari 1976 sampai 1983, disebut-sebut ada sekitar 30 ribu rakyat Argentina yang hilang dan terbunuh. Pihak junta sendiri hanya mau mengakui penangkapan 9 ribu orang.

Piala Dunia 1978 menjadi momen penting bagi junta militer untuk membangun citra positif ke dunia luar. Mereka ingin menjamu para peserta Piala Dunia, jurnalis, wisatawan dan suporter dengan cara yang sebaik mungkin. Junta militer ingin menunjukkan bahwa Argentina di bawah kekuasaan militer adalah Argentina yang modern, maju dan terus berbenah.

Maka menjadi tuan rumah yang sukses [baik sebagai penyelenggara maupun sebagai tuan rumah yang menjadi juara] menjadi krusial. Junta ingin rakyat Argentina melupakan represi, penangkapan, pembunuhan dan penculikan yang terjadi. Piala Dunia punya arti strategis agar Argentina bersedia bersatu tanpa syarat di bawah kendali junta militer.

Ketika akhirnya Argentina menjadi juara setelah mengalahkan Belanda di final dengan skor 3-1, seisi Argentina memang meledak dalam kegembiraan. Jenderal Videla dan kolega-koleganya memanfaatkan momen itu dengan baik untuk meyakinkan rakyatnya bahwa Argentina yang baru telah lahir. Mereka menyebutnya sebagai“la fiesta de todos” [pesta untuk semua].

Tapi junta militer gagal menutupi bau darah yang mereka tumpahkan justru karena momen Piala Dunia 1978 ini.

Adalah para ibu yang membongkar selubung darah yang menyelimuti wajah junta. Ibu-ibu itu masyhur dengan sebutan “Mothers of the Plaza de Mayo” (Ibu-ibu Plaza de Mayo). Mereka yang kehilangan anak dan suaminya karena praktik keji junta militer itu memutuskan untuk berunjukrasa di Plaza de Mayo, semacam alun-alun yang letaknya di depan Istana Kepresidenan Casa Rosada, pada 30 April 1977. Dimulai oleh 14 ibu, di akhir 1977 jumlah mereka sudah berlipat menjadi 150 orang.

Tujuan para ibu itu untuk menuntut dikembalikannya anak, cucu dan suami mereka yang hilang. Sebagian besar dari mereka mungkin sudah terbunuh, tapi mereka percaya masih banyak yang masih hidup di dalam tahanan yang tak berprikemanusiaan. Para ibu juga ingin agar publik Argentina tahu bahwa ada anyir darah dalam keseharian junta militer. Junta memang menutup saluran informasi sedemikian rupa sehingga banyak orang yang tidak tahu kekejian demi kekejian yang mereka lakukan.

Memasuki Mei 1978, para ibu itu semakin menggiatkan aksinya. Mereka akan muncul setiap pukul 3 sore di Plaza de Mayo. Mereka membawa foto anak, cucu dan suami mereka yang hilang berikut kertas betuliskan nama-nama orang yang mereka sayangi itu.

Posted By : www.AonCash.com